Sunday, November 1, 2009

Ruang Privasi

Tatkala Lapangan Terbang Antarabangsa Kaherah mulai lesu menjamah raut-raut 'segar', kini, ia kembali menanti wajah-wajah yang meninggalkannya pada purnama lalu.

Tentunya, menyambut sahabat yang kepingin teringin menjejak ke Lembah Nil, sekadar memutar kenangan indah (& pahit) seputar kehidupan.

Namun di balik keterujaan menyambut sahabat-sahabat baru, saya masih menuungu kelibat bayang seseorang yang begitu istemewa, bukan pada saya sahaja, malah kepada sesiapa yang berkesempatan mendampinginya.

Abdul Muqsith Shaari


Tika kita mematri janji untuk bersua selepas tahun berikutnya, harapnya akan tertunai jua.


Setelah berkejaran saat menjadi minit, bertukar minit membentuk jam, menyusul hari kepada minggu, berkumpul minggu mencipta bulan, dan digenap bulan pada tahun, tiba detik yang didamba.


Meski,

telah sama-sama kita mecongak mimpi agar kelak nanti bertukar realiti, Tuhan dengan ketentuan Yang Maha Pasti telah menentukan kita akan punya haluan sendiri.



Natijahnya,

Nyata, telah Tuhan amanahkan padamu pada suatu yang lebih baik.


Moga dikau mampu memikul amanah ini selayaknya, masakan tidak kerna Tuhan hanya membebani hamba-Nya sekadar mampunya sahaja.



Masih terbayang sms terkahir sebelum saya berlepas ke sini, menjadi perkongsian terakhir antara kami berdua:


Pada kesempatan bertemu,

Kalam selalu melulu,

Gerak agak terburu,

Namun,

Tindakmu acap mengundang syahdu,

Bersamamu damai di kalbu,

Pabila tiba saat jauh darimu,

Mata mulai kelabu,

Hati makin celaru,

Jiwa haru-biru,

Fikir tak tentu,

Pergi meninggalkanmu.

! أنا أحبك فى الله

Wednesday, October 7, 2009

Syawal , uniformitas@alienasi

Menekuni Syawal yang berbaki, terjumpa sebuah artikel yang telah lama disimpan, namun sekian lama ditenungi, punyai kaitan rapat dengan Syawal.

Biarlah dihadam matannya dahulu, syarahnya menyusul kemudian dengan izin-Nya.

Uniformitas dan Alienasi
Dampak yang paling menyeramkan – bagi saya – adalah Uniformitas dan alienasi. Unformitas diambil dari kata uniform yang berarti seragam, sedang uniformitas itu sendiri adalah membuat suatu kelompok entah itu masyarakat lokal atau komunitas internasional menjadi sama atau seragam. Nah, akibat ada penyeragman atau uniformitas inilah kemudian, mereka yang tidak sama atau menolak untuk menjadi sama menjadi teralienasi dan dianggap asing dari suatu kelompok. Konsumerisme secara tidak langsung membuat pola yang kemudian akan mendorong kita pada uniformitas. Bahkan fenomena unformitas ini sudah terjadi.

Handphone atau Hp misalnya, dulu ketika Hp belum ada atau belum umum, tanpa benda itu rasanya hidup kita baik-baik saja. Tapi sekarang, di kota seperti Jogjakarta ini, tidak mungkin rasanya untuk tidak memiliki Hp. Uniformitas tidak terjadi begitu saja, ada prosesnya. Misal dalam satu kota hidup 1000 anggota masyarakat. Pada awalnya hanya 250 orang saja yang memiliki Hp di kota tersebut, Hp belum umum dan mereka yang tidak memiliki Hp masih baik-baik saja dan tidak merasa aneh. Namun pemasaran Hp semakin agresif. Pemilik Hp berkembang menjadi 850 orang, jadilah 150 orang yang tidak memilik Hp merasa aneh dan ketinggalan zaman, rikiplik! Terjadi alienasi. Akhirnya mereka yang 150 itu, terpaksa memasukkan Hp sebagai daftar keperluan baru..! tadaaa!! Terjadilah unformitas!

Sumber: Irfansyah
[penggunaan bahasa diubah sesuai dengan sentiviti masyarakat kebanyakan]

Saturday, September 19, 2009

1 Syawal, Maaf Didahulukan, Silaturrahmi Diutamakan



kpd:
warga lot 18,
seluruh sanak dan saudara dari mula perlis hingga hujung johor,
saf pendidik yang menta'dib,
sahabat & sahabiah dari awal tadika hingga ke puncak jaya,
semua kenalan cikgu Zaki & cikgu Aishah,
&
seluruh insan yang mengenali, memahami, merindui dan mencintai...

KULLU SANAH WA ANTUM TOYYIBIN..
MAAF ZAHIR & BATIN



(Video dirakam pada 2007, di Amal Aimy Dzalifah. Ucapannya seperti berada di Mesir; dek himmah yang tinggi, mungkin.)

Friday, August 7, 2009

Tahniah @ Takziah


  1. Hidup umpama roda. Benar. Sekali roda berputar, sekali kita berubah. Buat yang di atas, itu bukan zon selesa; yang dibawah juga bukan zon sengsara. Kerna, yang di atas bukan hanya sekadar menjenguk yang bawah; untuk memastikan yang dibawah mendapat haknya, yang di atas juga diperhati teliti oleh zat Maha Tinggi yang meletakkan amanah ini pada yang di atas. Sewajarnya, yang di atas perlu lebih gayat diperhati dari memerhati.
  2. Taklifan ini bukan tasyrifan. Saya suka ayat ini. Namun, saya lebih suka ayat ini dihembus, dilagukan atau dihujah pada saya jika saya terpandu oleh dorong ambisi, oleh anda semua.
  3. Kini, saya juga bakal dijadikan bahan polemik legasi panjang dalam mencari keseimbngan dalam 3J. Jami'ah, Jami'yah dan Jami'. Moga dengan kuantiti kualiti yang sedikit ini, mampu mencari formulanya.
  4. Jika berperang berada di saf hadapan, risiko bahaya lebih tinggi. Secara peribadi tiga risiko besar saya menerima amanah ini:
  • Dek kerana saya bukan pemegang rekod kesihatan yang baik, risiko untuk cedera lebih tinggi dari yang jitu jasadnya.
  • Saya masih dalam kategori 'kanyar'. Masih banyak lompang yang belum sempat ditampung.
  • Rujuk pada yang atas. :>

*Ribuan terima kasih pada warga Muzallat atas hidangan lazat terutama kerabu 'Arabnya'. Terima kasih daun keladi, kalau ada rezeki jemput lagi.