Thursday, September 16, 2010

EUFORIA

Oleh M. Nora Burhanuddin

Perayaan sering termaknai manunggal. Ia tak lebih dari sekedar bersenang-senang. Euforia.

Namun, apa jadinya saat agama mulai membahasnya?

Tahun 1945, tepat 17 Ramadan, 65 tahun silam, NKRI memproklamasikan kemerdekaannya. Saya tak pernah tahu yang membuat momentum ini begitu tepat. Dan sakral! Selain alinea pertama pembukaan UUD 45.

Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka...

Jelas, tiga belas hari setelahnya, karena itu, bangsa Indonesia punya alasan yang kuat merayakannya. Idul Fitri sama dengan euforia. Selebihnya? Nabi bersabda, “Siapapun yang bersedih ditinggal Ramadan, ia akan masuk surga!” Agama, di titik ini, telah menganulir euforia.

Seolah saya harus memaknai Idul Fitri selain euforia.

Di kampung saya, ibu-ibu seminggu sebelumnya telah menjadi manusia paling sibuk. Mal-mal dan pasar-pasar mendadak membludak, meski sebelumnya pun tetap berjubel. Jualan santapan dan beragam parsel tak terhitung. Baju takwa, kopiah, sarung, sajadah—atau tepatnya seragam unjuk “kemenangan” itu—mendadak laris. Timpang. Para penjual pun berubah menjadi makhluk tengik; sekejap harga membumbung tinggi, seolah tak ada nantinya kaum kere yang tak kuasa belanja. Mereka mungkin tak salah karena ambisi para pembeli yang menggila itulah yang membuat harga melambung. Itu yang Adam Smith, Bapak Ekonomi kita, ajarkan.

Setiap perayaan selalu bentuk pengorbanan.  

Saat itu terik panas begitu menyengat. Seorang komandan yang sangat berkharisma terlihat demikian serius seolah ada yang dahsyat. Malam hari sebelumnya, salah seorang sahabatnya mendengar keluh-pintanya yang menyayat-nyayat, penuh iba dan harap. “Tuhanku, jika Kau tak menangkan pertempuran ini, tak ada lagi harapan agama-Mu teragungkan!”

Esoknya, sang komandan tiba-tiba menyeringai buas. Saat itu kerongkongan kelompok kecil itu tak satupun yang tersentuh air. Lambung pun tak sedang menyimpan makanan. Hanya teriakan Allahu Akbar yang membuat mereka semakin ganas, dan menjadi-jadi. Perang Badar dahsyat bergemuruh. Mereka menang, tepat bulan Ramadan. Perang pertama, dan jelas pengorbanan yang luar biasa.

Masyarakat Arab yang secara teoritis seharusnya lebih mewarisi semangat itu nyatanya tak lebih baik. Mesir, dengan seluruh kejayaan masa lampaunya, kekayaan budaya dan situs sejarahnya, pluralitas warga dan agamanya, juga pun larut selaras mozaik keragamannya. Ramadan, banyak yang mendadak seperti malaikat—meski selepasnya seganas syeitan. Masih banyak pencolengan. Pengorbanan pun tak lebih dari angin musim; silih berganti, cepat dan begitu tegas berubah.

Saya pikir, masyarakat Mesir sedikit lebih maju dari Indonesia dalam satu hal saja: mereka tak se-lebay masyarakat saya saat berlebaran!

Mengapa ini terjadi? Saya tak tahu pasti. Yang jelas saya tahu, ustadz-ustadz di TV itu, atau artis-artis yang mendadak menjadi ustadz itu, atau ustadz-ustadz yang ngartisitu, terlalu fasih mengucap “Assalamualaikum”, “Ya akhi”, “Ya ukhti”, “Subhanallah”, “Allahu Akbar”, sehingga pemirsa tertipu. Penonton seolah sedang melihat tokoh-tokoh suci, sehingga setiap ucapannya begitu menundukkan, dan tanpa gugat. Saat artis-artis itu berpesan, “Marilah kita sambut Hari Kemenangan ini dengan suka cita karena kita telah berhasil mengalahkan hawa nafsu selama sebulan”, para pemirsa itu tersihir. Seolah mereka pun telah benar-benar mengalahkan nafsu, selama sebulan. Dan itu patut dirayakan! Sayangnya, sikap glamour artis mendadak meracuni seluruh pemirsanya. Tak terkecuali saat Idul Fitri.

Agama kita mengajarkan keseimbangan. Saat menamakan sholat Jum’at sebagai Hari Raya umat, Islam pun mengajarkan berpakaian wangi, rapi, bersih. Kuku dianjurkan dicukur, seluruh rambut dipotong rapi, mandi sangat dianjurkan—kecuali yang memang wajib. Agama kita tak mengajarkan euforia, hanya keseimbangan dalam berhari raya.  

Ini juga yang harus dilakukan saat Idul Fitri. Saya pikir, kita harus mulai menghilangkan kebiasaan buruk itu. Misalnya dengan merubah pandangan bahwa Idul Fitri adalah garis finis perjuangan. Tidak! Ini hanya fase-fase perjuangan. Dengan itu kita pun menjadi pantas merayakannya.

Namun seberapa pantaskah kita merasa Idul Fitri adalah hari kemenangan kita? Saya ingin bertutur, dan di sana jawabannya!

Ramadan tiba dan kita mulai memandang bahwa pengaturan jadwal makan sudah saatnya. Hari pertama, diawali konflik penentuannya, dari kubu hijau ataupun biru. Memasuki tarawih, kita masih berselisih: delapan atau dua puluh rakaatnya. Tarawih pun seperti kayu: lambat laun semakin keropos jamaahnya.

Tadarus hari pertama begitu mengganggu tetangga karena terlalu malam. Kita tak puas, jika tak diperdengarkan keras-keras. Itu juga semakin susut-menyusut. Puasa hanya akumulasi seberapa jam kita tidur; sahur, sholat, tidur panjang, bangun-bangun berbuka. Bantal-guling begitu akrab bulan ini.

Jika tidak, hiburan kita hanya “kotak ajaib” itu. Di depannya kita melihat beragam sinetron-sinetron cengeng, direligi-religikan. Kita tak pernah jujur bahwa daya tarik sinetron itu bukan alurnya, ceritanya, apalagi dakwahnya. Kita hanya tahu, cewek-cewek cantik yang [seolah] salihah itu sedang tampil, tersenyum, dan [pura-pura] berdakwah. Kita rindu senyum dan kerling matanya. Kita tak kuat menikmati cengkok pipi dan sensual bibirnya. Suara dan gelak tawanya memaksa kita mengikuti episode demi episodenya. Meski kita tahu dan mengakui cerita dan alurnya memang jelek. Kita tak pernah jujur bahwa itu bukan sinetron dakwah, apalagi agama. Itu hanya parade kemolekan, keperawanan, dan kebinalan.

Kita harus mulai berani jujur. Jika saja amalan Ramadan kita memang demikian busuk, tak lebih tak kurang dari gambaran di atas, paling tidak kita punya satu amalan: kejujuran. Saat itu kita mungkin sedikit boleh bereuforia di hari raya ini. Meski, jika benar-benar jujur, sebenarnya kita tak pernah pantas untuk sekedar mengatakan Idul Fitri adalah hari raya kita.

Sunday, September 5, 2010

Alam Persekolahan di Luar Cengkaman Peperiksaan, Harapan Menuju Syawal

Keputusan sama ada untuk memansuhkan atau mengekalkan peperiksaan Penilaian Menengah Rendah (PMR) dan Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR)  selepas sambutan Hari Raya Aidilfitri ini, sememangnya amat dinanti.

Apapun keputusannya, keputusan kerajaan untuk menilai semula keberkesanan UPSR dan PMR sebagai cerminan pencapaian akademik pelajar membuktikan bahawa sistem pendidikan yang berasakan peperiksaan (exam-oriented) tidak lagi mampu untuk menjadi kayu ukur pencapaian pendidikan para pelajar. 

Melalui sistem (exam-oriented) penempuan besar pendidkan para pelajar di setiap peringkat akan ditumpu kepada prestasi akademik semata. Pencapaian akademik diangkat menjadi kayu ukur mutlak bagi menentukan kualiti pelajar. Orientasi pembelajaran akan tertuju bagaimana untuki meningkatkan jumlah markah dalam subjek. Maka suasana more testing than educating akan menjadi iklim pembelajaran. Alam pendidikan tidak lagi menjadi meriah dek kerana sebaik sahaja langkahan masuk ke dalam pagar sekolah, semua unit yang berada di dalamnya hanya bergerak atas orientasi membebankan ini.

Dato' Dr. Siddiq Fadzil dalam bukunya Pendidikan Al- Hikmah dan Misi Pencerahan mengutarakan pendapat " Anggapan umum bahawa prestasi akademik adalah penentu masa depan telah menimbulkan susasana persaingan yang semakin sengit. Alam persekolahan telah menjadi sebuah gelanggang hempas pulas yang tegang, anak-anak sekolahan kelihatan sugul, muram, kelelahan, terbeban dan tertekan. Keadaan inilah yang menimbulkan pertanyaan 'Are we prepare them for succces or overloading them with stress ?' Selain dianggap penentu masa depan, prestasi akademik anak-anak juga seringkali dilihat sebagai lambang status sosial dan kebanggan orang tuanya. Untuk itu pula anak-anak sekolahan dipacu bagai lumba kuda. Akibatnya yang kalah berlumba atau yang tidak mampu berlumba bersa tidak dihargai dan tidak dikehendaki "

Demi mencapai puncak prestasi akademik, anak bangsa hanya sekadar mampu untuk menghapal maklumat dari menghadam dan mencerna segala pengetahuan yang dicurah dalam kelas darjah. Menjadikannya anak muda serba sebelah sejak dari bangku persekolahan ! Hanya mampu menjadi penyimpan data yang baik dari menjadi makhluk merencana dan pemikir yang terpuji. Lantas, keupayaan akal karunia Tuhan hanya bergerak sebatas database angka,fakta dan formula.

Seorang pelajar pada beberapa tahun lepas melahir kemualannya lewat katanya "seem interested only in churning out top scores who are incapable of thinking, reasoning and talking about subject beyond their field of study", "tremendous pressure on student to excel, but only academically."

Semua rakyat Malaysia menanti penuh harap agar Syawal yang menjelma membuka lebaran baru supaya kita dapat melihat alam pendidikan tidak dihukum melalui peperiksaan sahaja.

Tuesday, August 31, 2010

Hikmah Kebijaksanaan Melayu

Merai merdeka yang melepasi takah setengan abad. Mari merenung kehalusan akal budi yang dijiwai Melayu hasil tarbiah Islam yang terbangun dari jiwa merdeka. Merdeka yang bukan dipaksa untuk menerima sesuatu nilai tanpa rela. Bahawa bangsa ini mampu diadun baik dengan fitrah Islam adalah jawab kepada pencarian pengisian merdeka dari kuasa penjajah yang mencabut segala yang halus tulus kemudian diganti nilai fasad yang menenggelam bangsa pada kenistaan.



بسم الله الرحمن الرحيم
نحمده ونصلى على رسوله الكريم
Hikmah Kebijaksanaan Melayu [1]
Oleh:
Al-Faqir Ila’llah :Muhammad ‘Uthman El-Muhammady[2]
Maksud hikmah kebijaksanaan Melayu: nilai-nilai, kata-kata dan tingkah laku serta perbuatan yang menunjukkan kebenaran dan kebaikan yang tinggi dalam pemikiran, pegangan, sikap,   renungan   dan perbuatan di kalangan Orang Melayu. Ini adalah sebagaimana yang terbayang dalam kata-kata terkenal: Hidup bersendikan adat, adat bersendikan Syarak dan Syarak bersendikan Kitabullah. Ia menggabungkan dalam satu kesepaduan antara panduan wahyu dan nubuwwah, faedah daripada pengelaman manusia yang terjelma dalam adat yang serasi dengannya  serta percubaan-percubaan dalam hidup yang dianggap terbaik dan paling unggul dalam hidup mereka.Ia harmonis dan selaras dengan pegangan dan amalan  Ahlisunnah  wa al-Jamaah yang menjadi anutan rantau ini.
Ini boleh didapati dalam pantun-pantun, kata-kata pepatah, ungkapan-ungkapan tradisional  dan, sudah tentu dari segi agamanya ia terkandung dalam teks-teks yang menerengkan Qura’n, hadith-hadith nabi, pegangan akidah, hukum hakam, prinsip-prin sip akhlak, tatacara menyusun masyarakat dan negeri  serta penyuburan ilmu pengetahuan dengan kepelbagaian cawangan-cawangannya.
Dalam Qur’an diterangkan dalam ayat (ومن ايته خلق السموات والارض واختلاف ألسنتكم وألوانكم ) yang bermaksud: Dan antara ayat-ayatNya ialah  (Ia) menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan  pada pertururan bahasa kamu dan warna kulit kamu  (ar-Rum:22);  dengan itu kita melihat kenyataan dari Allah taala berkenaan dengan adanya ayat-ayat Tuhan pada bahasa-bahasa pertuturan   dan juga warna kulit umat manusia.Ini terbayang lagi dalam ayat Qur’an (وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعارفوا.ان أكرمكم عند الله أتقاكم)  yang bermaksud: Dan sesungguhnya Kami (Allah)  menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu kenal mengenal antara sesama kamu (atau saling plajari ilmu pengetahuan antara sesama kamu) dan sesungguhnya yang paling mulia di kalangan kamu ialah orang yang paling bertaqwa. (al-Hujurat:13).
Kata-kata yang menunjukkan kebijaksanaan hikmah Melayu:
Nampaknya  yang boleh disimpulkan sebagai ‘hikmah kebijaksanaan Melayu’  ialah intisari pengajaran yang   terkandung dalam ‘tunjuk ajar Melayu’ itu. Ini digunakan oleh Pak Tenas Effendy antaranya dalam bukunya ‘Tunjuk Ajar Melayu’ (terbitan Dewan Kesenian Riau, percetakan Yayasan  KBMR Keluarga besar Melayu Riau,  1994).
‘Tunjuk ajar Melayu’ itu ialah ‘segala jenis petuah, amanah, petunjuk, nasehat, amanat, pengajaran, contoh tauladan, yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam arti luas’. (ibid.hal.5). Dan  ini diikuti dengan kenyataan bahawa pada orang tua-tua Melayu ‘tunjuk ajar Melayu adalah segala petuah dan amanah, suri tauladan, nasehat dan amanat , yang membawa manusia kejalan yang lurus dan diridhoi Allah, yang berkahnya menyelamatkan  manusia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’.(ibid.hal.5).
Berkenaan dengan ‘tunjuk ajar’ atau hikmah kebijaksanaan ini ia sedemikian rupa sifatnya sehingga  dikatakan tentangnya ‘Yang disebut tunjuk ajar tua:
Petunjuknya mengandung tuah
Pengajarannya berisi marwah
Petuahnya berisa berkah
Amanahnya berisi hikmah
Nasehatnya berisi manfaat
Pesannya berisi iman
Kajinya mengandung budi
Contohnya pada yang senonoh
Teladannya di jalan Tuhan’   (ibid.6)
Apakah kandungan tunjuk ajar itu?  Tunjuk ajar itu mengandungi nilai-nilai unggul (dari agama Islam), budaya dan nilai-nilai kemasyarakatan yang  menjadi pegangan ahli masyarakatnya. Dikatakan oleh orang tua-tua ‘di dalam tunjuk ajar agama memancar’ atau ‘di dalam tunjuk ajar Melayu tersembunyi berbagai ilmu’ (ibid. 6-7).
Tentang isi kandung tunjuk ajar itu diungkapkan:
Apalah isi  tunjuk ajar
ilmu yang benar
apalah isi tunjuk ajar
segala petunjuk ke jalan yang benar
apa isi tunjuk ajar Melayu
kepalanya Syara’
tubuhnya ilmu
apa isi tunjuk ajar Melayu:
penyuci akal
penenang kalbu
apa isi  tunjuk ajar Melayu
pendinding aib
penjaga malu
apa isi  tunjuk ajar Melayu
sari akidah patinya ilmu
mengekalkan tuah sejak dahulu  (ibid.7).
Tentang kepentingan dan nilai tunjuk ajar (atau hikmah kebijaksanaan ) itu  jelas daripada  kata-kata bijaksana  seperti di bawah:
Apa tanda Melayu juati
Tunjuk ajarnya dipegang mati
Apa tanda Melayu amanat
Memegang tunjuk ajar sampai ke lahat
Apa tanda Melayu berbudi
Tunjuk ajarnya dijunjung tinggi
Apa tanda melalu bertuah
Terhadap tunjuk ajar tiada lengah
Apa tanda Melayu budiman
Tunjuk ajar dijadikan pakaian
Apa tanda Melayu berakal
Tunjuk ajar dijadikan bekal
Apa tandanya Melayu terpilih
Tunjuk ajarnya tiada beralih  (ibid.hal)
Demikianlah seterusnya untaian kata-kata yang menunjukkan kata-kata hikmat bijaksana dijadikan pegangan yang sebati dengan peribadi dan tidak berubah-ubah melainkan elemen-elemen yang memerlukan sebenarnya kepada perubahan. Demi untuk memastikan bahawa tunjuk ajar ini kekal dalam masyarakat sebagai tradisi yang dipegangi dan dilaksanakan maka diajarkanlah untaian kata-kata:
Kalau duduk  duduk berguru
Kalau tegak tegak bertanya
Lalu pergi mencari ilmu (ibid. Hal.10)
Sikap berpegang kepada  ilmu dan pengalaman yang berharga dan teruji dalam hidup terbayang dalam kata-kata berikut:
Bersua ulama minta petuah
Bersama guru meminta ilmu
Bersua raja meminta daulat
Bersua hulubalang minta kuat
Bersua orang tua minta nasehat   (ibid. hal.10)
Pewarisan dan kesinambungan tunjuk ajar itu dipastikan   dengan berlakunya amalan pada generasi yang terdahulu sebelum ia diturunkan ilmunya kepada generasi yang berikutnya. Ini dapat difahami daripada untaian kata-kata yang penuh bermakna seperti di bawah:
Sebelum mengajar, banyak belajar
Sebelum memberi contoh ,
Bersifat senonoh
Sebelum  memberi teladan
Betulkan badan
Sebelum menasehati orang
Nasehati diri  sendiri   (ibid.hal.13)
Mudarat mengajarkan ilmu tanpa tauladan yang baik terlebih dahulu dijelaskan dalam kata-kata:
Kalau contoh tidak senonoh
Yang mencontohi akan bergaduh
Atau:
Bila mengajar tidak benar
Yang diajar akan bertengkar    (ibid.hal. 13)
Pewarisan tunjuk ajar itu,  demi memastikan kesinambungannya dalam peradaban, dijadikan kemestian oleh adat,  seperti berikut:
Petunjuk wajib ditunjukkan
Pengajaran wajib diajarkan
Yang petunjuk dipanjangkan
Yang pengajaran dibendangkan (asal tebal)
dengan tunjuk ajar adat berakar
dengan tunjuk ajar  imu mengakar
dengan tunjuk ajar
yang kecil menjadi besar
dengan tunjuk ajar
agama menjalar
apa tanda orang beriman
tunjuk ajar ia turunkan            (ibid.hal.13)
Dalam pengertian yang senada dengan yang di atas  dikatakan:
Tanda orang hidup beradat
Mewariskan tunjuk ajar ia ingat
Supaya hidup selamat
Tunjuk ajar diingat-ingat
Diturunkan bercepat-cepat
Diwariskan ketika ingat
Disampaikan di mana sempat             (ibid. Hal. 14).
Prinsip mementingkan contoh tauladan yang dilihat secara nyata adalah jelas diungkapkan:
Mencontoh kepada yang nampak
Meniru kepada yang nyata      (ibid.hal.15).
Prinsip ini menyebabkan orang-orang yang bicaranya baik-baik tetapi tauladan dan amalannya sebaliknya tidak  diambil berat oleh orang dalam masyarakat Melayu tradisional.Dengan itu terkenal untaian kata-kata:
Mulut bermadu perangai macam hantu
Atau
mulut manis, kelakuan macam iblis
Terkenal juga kata-kata berkenaan  dengan orang ‘lidah bercabang’:
Bila bercakap lidah bercabang
Seumur hidup tak dipercaya orang
Atau dikatakan:
Bila bercakap bercabang lidah
Pantang sekali memegang amanah
Menarik juga dalam prinsip kebijaksanan Melayu ini ialah konsep ‘tua’ dalam erti intelektuil dan budaya.Ini jelas ternyata dalam ungkapan berikut:
Kalau menjadi tua orang
Langkahnya dilihat lidahnya  dipegang
Kalau menjadi orang tua
Sesuaikan langkah dengan bicara
Kalau sudah dituakan orang
Lahir batin jangan bercabang  (ibid.hal.16)
Kalau menjadi tua orang
Pantang sekali berlaku sumbang (ibid).
Gambaran tentang manusia berbahagia pula,  disebut sebagai ‘manusia bertuah’ ialah:
Apa tanda manusia bertuah
Kecil menjadi tuah rumah
Besar menjadi tuah negeri
Bertuah hidup bertuah mati (ibid.hal.20)
Dan orang yang mendapat faedah yang paling banyak daripada ‘tunjuk ajar’ ialah orang yang berakal yang cepat mendapat iktibar:
Untuk memahami tunjuk ajar
Banyakkan faham serta iktibar
Untuk memahami  tunjuk ajar
Tajamkan mata banyak mendengar
Untuk memahami tunjuk ajar
Tekunkan menyemak , kuat berlajar
Untuk memahami tunjuk ajar
Banyak ilmu perlu didengar
Dan  ketepatan dalam faham sangat diutarakan  seperti berikut:
Salah tangkap
Badan mengidap
Salah makna
Badan celaka
Salah erti
Rusak pekerti
Salah pakai
Kerja terbengkalai
Salah tafsir
Kerja membazir  (ibid. hal.22) dan seterusnya.
Berkenbaan dengan kandungan tunjuk ajar itu ia jelas  seperti berikut:
Adat bersendikan Syarak, Syarak bersendikan Kitabullah
Adat adalah Syarak semata
Adat semata Quran dan sunnah
Adat sebenar adat ialah Kitabullah dan Sunnah Nabi
Syarak mengata adat memakai
Ya kata Syarak , benar kata adat
Adat tumbuh dari Syarak, syarak tumbuh dari Kitabullah
Berdiri  adat Kerala Syarak
Apa tanda Melayu jati
Bersama Islam hidup dan mati(ibid. Hal.25)
Dalam teks Pak Tenas Effendy, ini diikuti dengan bebarapa hakikat dalam kehidupan Melayu yang menunjukkan kesebatian hikmah kebijaksanaan demikian yang meresap dan sebati dalam hidupnya, yang , pada gambaran ini ia menjadi ‘malakah keagamaan’ (istilah ibn Khaldun dalam Muqaddimah)  pada diri Melayu itu.
Antaranya bagaimana Islam ‘melekat dihati’nya, ‘dengan Islam ia bersebati’, ‘hidup taqwa lepada Allah’, ‘hidup mati bersama akidah (Ahlissunnah wal-Jamaah)’, ‘memeluk Islam ianya kekal’, ‘membela Islam tahan dipenggal’, ‘hidup matinya dalam beriman’, ‘taat setia menyembah Tuhan’, ‘memeluk Islam tidak beralih’, ‘membela Islam tahan sembelih’, ‘kepada Allah tercurah kasih’, ‘membela Islam tahan dipijak’, ‘di dalam Islam beranak pinak’, ‘kepada Allah tempatnya ingat’, ‘syarak dipegang sunnah diingat’, ‘mengingat Allah tiada bertempat’, ‘membela Islam tahan dibakar’, ‘ajaran Islam ia mengakar’, ‘kepada syarak ia menepat’ dan seterusnya (ibid.hal.26-27).
Tanda ianya Orang Melayu ialah ‘membela Islam tahan dicencang’, ‘mendirikan Islam tiada bercabang’,  …’dengan Islam ia menyatu’, ‘Islam menjadi kain dan baju’, ‘islam semata dalam kalbu’ (hal.28).
Cara hidup Melayu mengikut hikmat kebijaksanaannya ialah: ‘yang kaji dihalusi, yang amal diperkekal, yang syarak disimak,  yang sunnah  dimamah,  yang iman dipadatkan, yang hati disucikan,  yang akal disempurnakan’ (hal.29).
Butir-butir tunjuk ajar itu cukup untuk menjadikan Melayu  sebagai  bangsa  yang mempunyai prinsip-prinsip kehidupan bagi menjaga hubungannya  dengan Tuhannya, dengan sesama manusianya, dengan alam sekitar dan sejarah, serta dengan keabadiannya.Ia berupa panduan yang digabungkan daripada ajaran wahyu, nubuwwah, pengamatan manusia  dengan  kelengkapan-kelengrapan dirinya serta  sejarah yang berlaku dan pengelaman manusiawinya.
Dalam teks ‘Tunjuk Ajar Melayu’ itu terdapat bimbingan kebijaksanaan Melayu tentang ketaqwaan lepada Tuhan, ketaatan lepada ibi bapa, ketaatan lepada pemimpin, persatuan dan kesatuan dengan gotong royongnya, tentang keadilan dan kebenaran, kelebihan menuntut ilmu pengetahuan (bab-bab 1-6), berkenaan dengan nilai-nilai pembentukan peribadi dan kalbu dengan sifat-sifat ikhlas dan rela berkorban, sifat rajin dan tekun dalam pekerjaan,  sikap mandiri, sikap berbudi, bertanggungjawab, sifat malu bertempat, kasih sayang,  (bab-bab 7-13), berkenaan dengan hak dan milik,   mesyuarat dan muafakat, keberanian dan kejujuran, sifat berhemat dan cermat, sifat rendah hati,  bersangka baik terhadap makhluk, sifat prajuk, tahun diri, keterbukaan, sifat pemaaf dan pemurah, sifat amanah, sikap memenafaatkan waktu, berpandangan jauh ke depan,  mensyukuri ni’mat Ilahi, sikap hidup sederhana (tidak terpengaruh dengan kepenggunaan untuk menunjuk-nunjuk –‘conspicuous consumerism’) (bab 14-29). Sifat-sifat serta sikap yang tersebut itu datang daripada  bangsa Melayu yang sifat-sifat unggulnya ditarbiah dengan kesempurnaan agama Islam.Melayu dan agama Islam adalah kesebatian yang sukar digambarkan.
Dalam teks yang sama (hal.397-610) terdapat prinsip-prinsip kebijaksanaan Melayu berhubungan  dengan amanah:amanah  guru lepada murid,   amanah orang tua kepada anaknya, amanah dalam hidup rumah tangga atau kekeluargaan, amanah yang am, amanah dalam mendidik dan membela anak-anak, amanah dalam kesetiakawanan, amanah berhubungan dengan alam yang kekal abadi, pembenaan rumah tangga dan keluarga yang bahagia, tentang kepemimpinan, alam sekitar (bab 1-10).
Nampaknya sifat-sifat dan prinsip-prinsip inilah yang tergambar dalam ‘Sejarah Melayu’, ‘Hikayat Hang Tuah’,  ‘Tuhfatun Nafis’, ‘Gurindam Dua Belas’, ‘Taj al-Salatin’,  ‘Sair al-Salikin’, ‘Turjuman al-Mustafid’ , teks-teks seperti ‘as-Sirat al-Mustaqim’, ‘Kash al-Litham’, ‘Furu’ al-Masa’il’,  ‘Nihayah al-Zain’,  ‘Asuhan Budi’, dan ‘Hadiqatul-Azhar’  dan lain-lainnya yang banyak lagi itu,  termasuk hikayat-hikayat, yang berupa catitan abadi tentang prinsip-prinsip dan nilai-nilai pegangan Melayu sepanjang zaman. Nilai-nilai ini dalam sastera klasik ada pada Hang Tuah  yang berupa personifikasi nilai-nilai peribadi terunggul dan prinsip-prinsip yang mengekalkan jatidiri Melayu dan tamadunnya.
Ia nilai-nilai yang saya sebutkan dalam perbincangan di IKIM pada 28 Jun 2010 sebagai ‘…nilai-nilai kesejatian dalam kesetiaan, amanah, kebenaran, keberanian, keteguhan azam, kesungguhan dalam juang, kesetiakawanan, kemampuan komunikasi taraf tinggi dan rendah,  kelicinan usaha bertugas dengan tepat, kematangan  rohani dan  fikir, jiwa mementingkan bangsa dan umat mengatasi kepentingan diri yang sempit, pandangan yang jauh dan tajam. Allahumma’rzuqna amin. Sayangnya setengahnya menganggap ini nilai-nilai feudalisme yang wajib digantikan dengan ‘nilai-nilai progresif’ tanpa menyedari ini adalah nilai sarwajagat dan bukan ‘nilai-nilai feudal’.Ia bukan ‘time-bound’ tetapi ‘reality-bound’ dalam pengertian fitrah yang universal  itu’.(dalam nota majlis perbincangan pakar-pakar di IKIM pada 28-6-10 bertajuk ‘SELEPAS 60 TAHUN KES NATRAH: DI MANA KITA?-PERSPEKTIF PENDIDIKAN’ hal.2).
Dan bila menyebut Hang Tuah –apapun juga kedudukannya dari segi sejarah- ia melambangkan nilai-nilai universal yang menjamin keutuhan dan kesinambungan hidup peribadi dan tamadun umat.Ia bukan nilai-nilai feudal; kesetiaan Hang Tuah kepada raja adalah kesetiaan kepada institusi atau tonggak peradaban Islam di kalangan bangsa Melayu yang tanpanya Melayu akan menjadi ‘cultural barbarian’, ‘kaum biadab dalam budaya’.Ia dari institusi yang disahkan oleh tradisi dalam ajaran dan sejarah Islam.Ia gabungan antara Islam dan Melayu seutuhnya.
Kita memerlukan Hang Tuah abad ke 21 di kalangan kita; kita mesti mengelak daripada peribadi Hang Jebat yang merupakan pemberontakan tanpa prinsip (unprincipled rebellion).Dalam psikologi rohaniah tradisional ia melambangkan nafsu ammarah bissu’, yang yang mengarah kepada kejahatan, manakala Hang Tuah adalah melambangkan nafsu al-mutma’innah yang teguh tenang serta aktif dalam kebaikan yang berterusan. Kita memerlukan  sosok peribadi seperti ini  dalam suasana masakini.Ia seumpama angin puting beliung yang dilihat dari segi positif, dengan  titik tengahnya  tenang tak bergerak, tetap dengan bahagian luarnya bergelora tangkas dengan kerjanya; kalbu Melayu tradicional tenang tetap dengan zikir dan fikir, serta firasat, dalam keimanan, tawakal dan reda, badannya cergas ligat dalam bakti yang berterusan.  (Ucapan jazaka’Llah kepada Dato’ Dr Hasan Ahmad CEO Yayasan Karyawan dan kepada Tun Ahmad Sarji yang menonjolkan nilai-nilai unggul dalam peribadi Hang Tuah ini.)
Nilai-nilai ini saya bicarakan dalam memahami pandangan tradisional Melayu  berhubungan dengan ketaqwaan dan iman, budaya ilmu dan menjaga kehidupan yang baik dan bermaruah, menjaga alam sekitar dan hubungan baik antara  sesama manusia,  juga tugas menjaga negeri  dengan baik dan  berkesan. Ia gususan prinsip-prinsip dan nilai  yang menjamin kejayaan hakiki dunia dan akhirat serta menjadi asas-asas pembentukan peradaban yang  dikehendaki bagi menjadikan ianys alam di mana Kalam Ilahi dan namaNya  dimuliakan  setinggi-tingginya.Amin.(lihat ‘Islam Hadhari in the Context of Traditional Malay-Islamic Discourse in the Malay World’ dalam buku ‘Islam Hadhari-Bridging Tradition and Modernity’ , ISTAC, IIUM,  2010 hal.85-121).
Lebai Nusantara  Di Sini Bermadah:
Rakan, aku lebai Nusantara di sini
Ingin mengajak rakan melihat kembali
Sejarah dan adat sejati bangsa dan pertiwi
Dalam suluhan hati nurani murni
Tanpa keladak khayalan palsu masakini
Rakan , mari kita ingatkan Pasai dan Melaka
Kemudian Aceh, Inderagiri, Brunei, Petani pesaka
Berterusan  dengan pegangan Melayu jati nyata
Nilai dan asas kehidupan puas bahagia
Dengan kebenaran keadilan kesetiakawanan bangsa
Rakan kita semarakkan nilai tradisi kita
Hidup bersendikan adat adat bersendikan Syarak nyata
Syarak bersendikan firman dan sabda
Membina peribadi  penuh sejati setia
Dengan kebenaran agama dan tradisi bangsa
Rakan kita membina kesetiakawanan sejati
Bersama mereka hidup kita sampai sebati
Mempertahankan kedaulatan bangsa  raja mandiri
Lembaga bangsa menguatkan agama dan diri
Kita  bangsa dan watan teguh  selamat terdiri
Kita pegangkan iman dan taqwa yang teguh
Keyakinan  dengan ajaran dan nilai sungguh
Bermuafakat teguh berpecah kita rubuh
Mendepani suasana budaza  keruh dan  rioh
Zaman ancaman memastikan kita berteguh
Kita perteguhkan  hidup Melayu Islam Beraja
Nilai Melayu sejati bersama Islam mulia
Lembaga beraja adat  teguh tersedia dahulu kala
Kesebatian tunjuk ajar membawa kita berjaya
Tepiskan ajaran nilai menyanggah maruah bangsa
Quran mengajarkan Yahud  Nasara tidak tenang
Bila teguh kita  dalam pegangan  menang
Mereka mahu kita  tersilap kemuliaan melayang
Nilai kaedah hidup habis  terkena  serang
Pemikiran menjadi nisbi semua dasar terbang
Kita menjadi hamba baru  persejagatan
Kononnya  demi kejayaan dan kebahagiaan
Ekonomi kuat   selesa jaya dalam kehidupan
Sebenarnya menjadi papa tanpa kebebasan
Kaya bunyi hakikat sebenar khayalan
Kita bangsa agama menjadi melarat
Tamadun  sengsara umat mencapai sakrat
Tidak ada lagi  yang mulia boleh dibuat
Kepada Allah kita mesti memohon  rahmat
Agar tidak ditipu mereka yang sesat barat
-          Gubahan Lebai Nusantara di Kuala Lumpur-30-6-10 – sempena penulisan untuk pembentangan di Brunei Darussalam akhir Julai 2010.

[1] Untuk perbincangan dalam seminar di Brunei Darussalam Bandar Seri Begawan hujung Julai 2010
[2] Felo Amat Utama Akademik ISIAC IIUM, prof.Adjung Universiti Petronas Tronoh Perak, ahli lembaga pengarah IIM, ahli lembaga pemegang amanah Yayasan Karyawan