Friday, December 24, 2010

FAKTOR HIJRAH: PERUBAHAN


Hijrah jika disorot pada pengertian bahasanya bermaksud meninggalkan satu tempat menuju ke satu tempat yang lain. Dalam erti kata yang luas hijrah amat cocok dipadankan pada kata perubahan. Jika hijrah diteliti dengan lebih mendalam, faktor pendesak yang menghasilkan sesuatu penghijrahan pasti lahir dari perubahan. Rasa ingin berubah, menatijahkan penghijrahan dari segala sudut kehidupan. Rantaian hijrah dari mula hingga akhirnya pasti tidak lepas dari perubahan bermula sebelum, semasa dan selepas penghijrahan.

Penghijrahan Junjungan Besar Nabi Muhammad s.a.w yang berlalu sejak 1432 tahun dulu juga lahir dari faktor perubahan. Malah lebih dari itu, risalah Islam yang dibawa oleh sekalian Anbiya’ sendiri adalah risalah perubahan. Menyeru manusia untuk melakukan perubahan dengan mengesakan Allah Taala dan tiada menyukutan Allah dengan sebarang sembahan lain.

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُ ۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۟ فَٱعۡبُدُونِ

" Dan Kami tidak mengutus sebelummu (wahai Muhammad) seseorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahawa sesungguhnya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, oleh itu beribadatlah kamu kepadaKu "

Natijah dari penghijrahan Baginda merupakan permulaan  besar yang terus menjamin kelangsungan Islam hingga ke hari ini. Kebebasan beragama yang luas hingga memangkin kesempurnaan Islam beraksi dalam setiap lapangan kehidupan. Tatacara bernegara, pengaturan sosial masyarakat dan bidang lainnya ditadbir urus dengan meletakkan Islam sebagai tunjangnya.

Berlalu ribuan tahun, keperluan hijrah selayaknya tidak dikenang tepat Awal Muharram sahaja. Bahkan, dalam realiti Islam kini, setelah dicabut hampir segala fungsinya yang syumul itu dan disudutkan pada segi tertentu sahaja, ummat sepatutnya mengembeleng sepenuhnya kekuatan bagi meletakkan kembali Islam sebagai tuan pada buana ini.



Dimuat dalam Nida' Huffaz, risalah terbitan Unit Penerangan dan Penerbitan Dewan Perwakilan Mahasiswa (MAQAZ) Shoubra

Sunday, December 5, 2010

COMMUNAL PROPERTY ACCORDING TO ISLAM


Islam has seperated such items from individual ownership which is necessary for the general public and which is not defendant upon the efforts of the individual nor is its benefits exclusive to the individual. Such items are placed under comuunal ownership. This is doneto prevent the individual from being the cause of harm to the society. The Prophet  Muhammad (p.b.u.h) has mentioned four thing in this respect :

Water
General Pasture
Fire 
Salt

He said "Mankind is the communal owner and participant in three thing, water, fire and pasture".

It is reported by Imam Abu Daud, that a man asked Prophet  Muhammad (p.b.u.h) saying"O Mesengger of Allah, what are the thing that cannot be witheld from anybody ? The Prophet in reply said WATER, the man enquired futher, then what ? The Prophet replied PASTURE, the man said then what? Thr Prophet replied SALT"

By fire is meant such as wood and shrubbery which is not the property of any individual and is not the result of individual effort, such as dry wood in the jungle which is blown from place to place by wind, By salt is meant a particular kind of salt found in the mountain an d desert without much effort. This is substantiated by the incident found in the book of tradition. It is reported that Abyud Ibn Kamal, from Yemen, called upon the Prophet. He asked Prophet  Muhammad (p.b.u.h). He asked the Prophet to give him some salt found in some part in his country. The Prophet complied to this request, and he was leaving with the salt, a man came up to the Prophet  Muhammad (p.b.u.h) and said

"O Mesengger of Allah, this salt is found in a land where there is no water"By this he meant that the salt was obtained without any efforts. It was therefore unlike the salt obtained from the salt pens made by individuals and therefore, it was like the water that flows greely. The Prophet then said to Abyud Ibn Kamal "If that is the case, I cannot give it to you"

The famous commentator, El-Sindi, while commenting on the action of the Prophet  Muhammad (p.b.u.h) said: "This action is evidence to prove that such minereal which are obtained without any difficult and are found everywhere are public property and belong to the people, it therefore cannot be given as a gift to anybody. The masses are the owners of such items as water and pasture."

Ibn Kudama in his famous book 'El- Mughny' which is a reference book of Hanbali school of thought, comments on the this incidents ''This is because salt is an items which is belong to the general Muslim masses and has communal interests, it cannot be given as a gift

"The tradition of the Prophet  Muhammad (p.b.u.h) has mentioned these four items exclusively because they are the necssities of lives life of the Rarab people. The communal necessities of lives of various people differs in accordance to the various periods of time and climates. By analogy and reason, various other items which fall in the same category will be affected by the same law. Muslims jurist have placed all public amenities such as roads, bridges, dams and places of historal interest in this category.

The famous Imam Malik has by way of analogy placed all minerals found in the earth irrespective whether in the form of liquid, or solid, as public property belinging to the state. The benefactors are the people of the state. If such items are found on the property of an individual, it will still be considerd communal property. The Imam argues that the individual owns the surface of the earth and not what is found within. In normal circustances, the individual has the right to build on his or to use his land for all purposes. But it is not usual for an individual to own all the treasure found in the depth. The bounties of God in the erath are not exclusive to any individual. Apart from this, these bounties are for the benefit og general public. They therefore resemble the thing mentioned by the Prophet that are not affected by private ownership. They found in particular places and the public is in need of it. Should such items be left to the mercy of individual ownership, the public will suffer immensly. Imam Malik's opinion in this respect is the best. Opinions of many Islamic jurist are in the accordance with Imam Malik. When the earth in which the mineral is did not belong without any hardship or effort.

In his book, Imam Shafie has the following comment, under thsi category all such tangible items as oil, gas, sulphur, stone and chemicals of medicinal valus. They do not belong to any particualr individual. No single individual has nay exclusive right over such itmes, nor can the king have claim over these for himself. If any individual disregards this or deprives others of it, will be considered an aggressor.

In his book, 'Badai El- Sanai' Kashanim who is regarded as an authority of the Hanafi school of taught, has following to say" All grounds possessing salt, gas, oil and items that are indispensible to Muslims, belong to the state. The Imam has no authority of disposing them to any individual in any form, because they are state property"

Ibn Kudama an authority on the Hanbali school of thought, makes the following remarks in his famous book 'El-Mughni' "All such minerals which are indespensible to the public and which they can obtain without any effort, such as salt, water, sulphur, gas, oil, rubies, and the like, cannot be witheld by any individual. They belong to the Muslim masses. In no way can they be reserved or retained by any single individual"

- From Economic Integration in Islam, Its Fundamental Pillars (Dr. Abdul Wahid Wafi)
The Sixth Conference of The Academy of Islamic Research, Cairo, 1971 

Friday, October 29, 2010

Menara Warisan Merdeka : Dua Musabab Utama



Antara tumpuan utama pembentangan bajet 2011 adalah pembinaan bangunan 100 tingkat, Menara Warisan Merdeka. Dalam ruang ini saya majukan dua musabab mempertikai projek ini

  1. Konotasi 'Warisan' yang disandar pada menara tersebut cukup meragukan. Seperti yang yang dijelas oleh Perdana Menteri yang juga Menteri Kewangan, pembinaan bangunan pencakar langit ini bakal dimajukan oleh Permodalan Nasional Berhad (PNB) , sebuah syarikat pelaburan bumiputra yang telah dipundakkan tugasnya bagi membangun swadaya kaum bumiputra bagi meningkatkan taraf ekonomi kelompok tersebut. Ada baiknya kita susuri perkaitan kuat antara dua kata kunci di sini; 'Warisan' dan 'Bumiputra'. Sebelum penjajahan kuasa asing pada Tanah Melayu, tampuk pentadbiran Tanah Melayu sepenuhnya diurus oleh kaum pribumi, bumiputra. Pada periode ini, kita menyaksikan satu sistem urus tadbir yang baik, jika tidak sempurna sekalipun. Walau ditadbir oleh sistem raja minoraki, suara rakyat terbanyak diambil kira sebelum suatu polisi pentadbiran dilaksanakan. Sultan Alauddin Riayat Syah misalnya, cukup dikenali dengan sifat terpujinya menekuni detik nadi marhean dengan menyamar sebagai rakyat biasa pada zaman pemerintahannya bagi merasai sendiri kehidupan bergelar rakyat yang terkadang tersisih cakap pandangnya dalam pentadbiran negara, walau golong inilah yang bakal menerima kesan paling besar bagi setiap corak pentadbiran yang dikenakan pada mereka. Ini merupakan sebahagian dari contoh 'Warisan' pentadbiran  yang telah ditadbiri oleh masyarakat pribumi. Hajjiyat diutamakan, awlawiyyatdidahulukan. Manakala 'Bumiputra' seperti diketahui umum, masyarakat asal punya Tanah Melayu ini. Masyarakat asal yang mampu untuk menanggapi setiap potensi ruang buana ini sebaiknya. Masyarakat pewaris warisan budaya, nilai, corak tanah ini. Jika warisan mahu disandar pada menara itu, adakah ia lambang jitu yang mewakili 'Warisan Bumiputranya' ? Oleh itu, konotasi 'Menara Warisan' cukup meragukan kerana balik warisan manakah pembangunan ini cuba disungguhkan pembinaannya ? Ketika nasib ekonomi bumiputra dan kaum lainnya masoh jauh dari terbela, kos pembinaan yang besar itu cukup menghiris marhean yang makin sempit dihimpit hidupnya. Atas alasan mahu menjadi mercu tanda baru negara, zaman Khalifah Umar Ibn Aziz masih harum dikenang baiknya tanpa kemegahan pada materi yang berleluasa dari Babylon yang mampu bermegah pada Taman Tergantungnya.    
  2. Pembinaan Menara Warisan jika direnung lebih dalam bakal mengulangi apa yang telah diperihalkan oleh John Perkins dalam Economics Hit Man. Bagaimana keghairahan tinggi sesebuah negara untuk mengejar status negara maju, akhirnya telah terjerumus dalam bebanan hutang yang tiada mampu dibayar . Belumpun projek pembinaan Menara Warisan dimulakan, pengumuman Ketua Audit Negara bahawa paras hutang negara berada dalam paras tertinggi dalam tempoh lima tahun, yang mencakupi 54 % KDNK negara sekadar memperkuat dakwaan ini. Sedang kita masih menangisi projek mega yang lalu yang hanya gah pada nama, namun gagal pada fungsi, kenyataan ini menguatkan hujah Perkins Dalam Economics Hit Man. Dalam buku tersebut, Perkins telah menceritakan secara mudah tugasnya untuk memperluas cengkaman hegemoni Amerika Syarikat dengan menjebakkan negara sasaran ke dalam hutang besar hingga memaksa ia meminjam kepada kerajaan Amerika Syarikat dan agensi kewangan antarabangsa . Usah berasa selesa dengan kenyataan ini bahawa projek ini akan dibiayai oleh PNB sepenuhnya. Dengan tenaga pembinaannya yang akan diimport dari luar negara, harga 5 billion ini mampu sahaja untuk melonjak ke angka lebih besar. Mari fikirkan logik mudah ini, dengan Menara Warisan dijangka siap pada 2015, hutang negara yang makin meningkat, mampukah Malaysia menolak sebarang tawaran agensi ekonomi antarabangsa, untuk memulihkan kewangannya ? Bimbangnya yang 'Menara Warisan Merdeka' itu benar-benar merdeka. Merdeka sehingga terpaksa bebas melepaskan segala-galanya menikut telunjuk kuasa utama dunia. Yang dikejar melangit tak dapat,yang dikendong waris berwarisan berciciran. 

Thursday, October 21, 2010

KERAIAN SARAT NILAI

Aidilfitri yang menyusul langsung lepas Ramadhan ditakdirkan untuk tidak menjadi hari keraian hambar tanpa nilai, Hari Raya Aidilfitri adalah sarat nilai.

Dalam kelendar perayaann Arab Jahiliyyah, setiap perayaan disambut hanya untuk sekadar memuaskan nafsu.Perayaan yang disambut tanpa sebarang penghayatan nilai . Lalu, tidak hairanlah kebejatan sosial masyarakat Jahiliyyah Arab menjadi identiti sinonim mereka sebelum kedatangan Islam.  Urusan luar rasional menjadi nilai yang diterima umum dalam kehidupan seharian. Menistakan kelahiran bayi perempuan, menipu dalam perniagaan dan lainnya merupakan hasil akibat dipandu pertimbangan akal dangkal semata.

Lantas, demi membasmi kesesatan ini, Allah Taala menghadiahkan kepada ummat Muhammad perayaan yang lebih murni penghayatannya, lebih suci ruhnya kepada kita. Aidilfitri dirayakan sebagai lambang kejayaan kita melepasi tarbiyah Ramadhan; selama sebulan kita menahan diri dari makan dan minum ,belajar untuk menjadi hamba Allah yang taat akan erti hidupnya dan memupuk segala amalan Islam yang sempurna pada diri kita.

Justeru, Aidilfitri sebagai ganti kepada perayaan sesat Jahiliyyah, harus dicorak melalui kekuatannya yang tersendiri. Pada kekuatan untuk membesarkan kekuasaan Illahi yang terus memberi hayat sehingga ke hari kemenangan setelah dibekalkan kesempatan mengecas kekuatan ruhiyyah pada Ramadhan. Bertakbir, sebagai contoh, melambangkan lautan kesyukuran yang kita titipkan kepada Maha Rahim sebaik kita melangkah ke Aidilfitri.

Aidilfitri pada kekuataanya mampu untuk meneruskan rentetan kecermelangan taqwa yang ditempuhi pada Ramadhan. Akan tetapi, Aidilfitri jika dicorak pada acuan lama Jahiliyyah,sesuatu yang semakin zahir kini, bukan sahaja mampu meluturkan nilai Aidilfitri, malahan kesan pertarbiyahan Ramadhan tidak akan meninggalkan bekas yang lama pada diri kita.

Railah Aidilfitri pada kekuatannya seperti yang ditegakkan oleh Baginda Muhammad alaih salam. Biar bersederhana, namun bercahaya.

Dimuat dalam Nida' Huffaz, risalah terbitan Unit Penerangan dan Penerbitan Dewan Perwakilan Mahasiswa (MAQAZ) Shoubra