Wednesday, October 7, 2009

Syawal , uniformitas@alienasi

Menekuni Syawal yang berbaki, terjumpa sebuah artikel yang telah lama disimpan, namun sekian lama ditenungi, punyai kaitan rapat dengan Syawal.

Biarlah dihadam matannya dahulu, syarahnya menyusul kemudian dengan izin-Nya.

Uniformitas dan Alienasi
Dampak yang paling menyeramkan – bagi saya – adalah Uniformitas dan alienasi. Unformitas diambil dari kata uniform yang berarti seragam, sedang uniformitas itu sendiri adalah membuat suatu kelompok entah itu masyarakat lokal atau komunitas internasional menjadi sama atau seragam. Nah, akibat ada penyeragman atau uniformitas inilah kemudian, mereka yang tidak sama atau menolak untuk menjadi sama menjadi teralienasi dan dianggap asing dari suatu kelompok. Konsumerisme secara tidak langsung membuat pola yang kemudian akan mendorong kita pada uniformitas. Bahkan fenomena unformitas ini sudah terjadi.

Handphone atau Hp misalnya, dulu ketika Hp belum ada atau belum umum, tanpa benda itu rasanya hidup kita baik-baik saja. Tapi sekarang, di kota seperti Jogjakarta ini, tidak mungkin rasanya untuk tidak memiliki Hp. Uniformitas tidak terjadi begitu saja, ada prosesnya. Misal dalam satu kota hidup 1000 anggota masyarakat. Pada awalnya hanya 250 orang saja yang memiliki Hp di kota tersebut, Hp belum umum dan mereka yang tidak memiliki Hp masih baik-baik saja dan tidak merasa aneh. Namun pemasaran Hp semakin agresif. Pemilik Hp berkembang menjadi 850 orang, jadilah 150 orang yang tidak memilik Hp merasa aneh dan ketinggalan zaman, rikiplik! Terjadi alienasi. Akhirnya mereka yang 150 itu, terpaksa memasukkan Hp sebagai daftar keperluan baru..! tadaaa!! Terjadilah unformitas!

Sumber: Irfansyah
[penggunaan bahasa diubah sesuai dengan sentiviti masyarakat kebanyakan]

Saturday, September 19, 2009

1 Syawal, Maaf Didahulukan, Silaturrahmi Diutamakan



kpd:
warga lot 18,
seluruh sanak dan saudara dari mula perlis hingga hujung johor,
saf pendidik yang menta'dib,
sahabat & sahabiah dari awal tadika hingga ke puncak jaya,
semua kenalan cikgu Zaki & cikgu Aishah,
&
seluruh insan yang mengenali, memahami, merindui dan mencintai...

KULLU SANAH WA ANTUM TOYYIBIN..
MAAF ZAHIR & BATIN



(Video dirakam pada 2007, di Amal Aimy Dzalifah. Ucapannya seperti berada di Mesir; dek himmah yang tinggi, mungkin.)

Friday, August 7, 2009

Tahniah @ Takziah


  1. Hidup umpama roda. Benar. Sekali roda berputar, sekali kita berubah. Buat yang di atas, itu bukan zon selesa; yang dibawah juga bukan zon sengsara. Kerna, yang di atas bukan hanya sekadar menjenguk yang bawah; untuk memastikan yang dibawah mendapat haknya, yang di atas juga diperhati teliti oleh zat Maha Tinggi yang meletakkan amanah ini pada yang di atas. Sewajarnya, yang di atas perlu lebih gayat diperhati dari memerhati.
  2. Taklifan ini bukan tasyrifan. Saya suka ayat ini. Namun, saya lebih suka ayat ini dihembus, dilagukan atau dihujah pada saya jika saya terpandu oleh dorong ambisi, oleh anda semua.
  3. Kini, saya juga bakal dijadikan bahan polemik legasi panjang dalam mencari keseimbngan dalam 3J. Jami'ah, Jami'yah dan Jami'. Moga dengan kuantiti kualiti yang sedikit ini, mampu mencari formulanya.
  4. Jika berperang berada di saf hadapan, risiko bahaya lebih tinggi. Secara peribadi tiga risiko besar saya menerima amanah ini:
  • Dek kerana saya bukan pemegang rekod kesihatan yang baik, risiko untuk cedera lebih tinggi dari yang jitu jasadnya.
  • Saya masih dalam kategori 'kanyar'. Masih banyak lompang yang belum sempat ditampung.
  • Rujuk pada yang atas. :>

*Ribuan terima kasih pada warga Muzallat atas hidangan lazat terutama kerabu 'Arabnya'. Terima kasih daun keladi, kalau ada rezeki jemput lagi.

Tuesday, June 2, 2009

Pasca Imtihan: Siri Ketiga

Sengaja saya tulis entri ini dalam kontra situasi dalam detik yang sama. Kurang 24 jam dari sekarang, detik KLIMAKS akan bermula bagi Mahasiwa Tahun Tiga Maahad Qiraat Shoubra & Mansurah in their final exam. Manakala, Mahasiswa Tahun Satu dan Dua mengambil langkah ANTI-KLIMAKS dek usai Imtihan masing-masing tika rali Imtihan di Lembah Nil masih berlangsung walau temponya makin kendur.

Mengulas tsunami Imtihan yang melanda Shoubra tempoh hari, saya tidak terkejut besar dengan fenomena ini. Seperti yang digambarkan sebelum ini, saya sudah menjangkakannya sedari awal. Keputusan Imtihan Dur Awal tempoh hari merupakan huge achievement kepada warga Shoubra. Peningkatan pelajar SOFI (lulus semua subjek dalam Dur Awal) dari tujuh orang pada purnama sebelumnya kepada 47 orang menceritakan segalanya. Nyata SOFI tidak lagi menjadi sutera ekslusif yang dikenakan golong ‘ilmuwan’ sahaja, malah sama dinikmati ‘marhean’ lainnya.

Harapan saya peningkatan bilangan SOFI ini bergerak senada dengan tahap penguasaan ilmu kita di sini. Walau saya tidak menggemari konsep pembelajaran untuk peperiksaan, namun saya percaya peperiksaan adalah sebahagian proses ke arah kematangan ilmu. Kalungan tahniah saya ucapkan pada semua belah 47.

Saya? Dari awal satu hingga hujung 47, tiada saya tergolong dalam pihak ini. Nyata, saya masih punya misi yang belum selesai. Take it from positive view, saya merasa amat bertuah untuk terus menekuni Usul Qiraat sebaiknya. Saya akui, masih banyak yang perlu saya kuasai dalam mauduk ini. Segala puji pada Yang Esa atas peluang ini.

Namun,bukan senang untuk menerima hakikat gagal. Tapi, sekurang-kurangnya saya lebih menghayati buku Berani Gagal Billi Lim. Dare To Fail.

_________________________________

Khas bagi pembaca yang mempunyai pengalaman hidup di Mesir sahaja.

Fikirkan.

Bayangkan sebuah bangunan tujuh tingkat yang berkepadatan 50 hingga 100 orang di setiap tingkat, dengan suasana yang aman,tenteram dan menyenangkan. Jauh dari hiruk-piruk kota, namun bangunan itu terletak betul-betul di tengah kota yang sibuk.

Setiap orang di setiap tingkat melakukan kerja yang sama. Mereka berulang-alik mencari sesuatu, setelah menjumpainya, mereka duduk dalam tempoh lama sebelum mengulanginya semula.

Dimanakah lokasi bangunan ini?

Saya baru sahaja menemuinya, dan penglaman berada di dalamnya amat mengasyikkan. Saya juga melakukan ritual yang sama seperti semua orang di dalamnya.