Thursday, February 24, 2011

Beberapa Tafsiran HAMKA


Dengan takdir kekuasaan Allah Taala, raja segala raja, dunia memerhatikan dengan penuh minat ledakan domino yang menjatukan satu persatu penguasa Timur Tengah bermula Tunisia dan Libya menunggu masanya. Firman Allah Taala dalam Ali Imran ayat 26 adalah peringatan terbaik kepada semua pengemban amanah bermula sang pentadbir negara hingga serendah-rendah penguasa :

Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa pemerintahan! Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kuasa pemerintahan dari sesiapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan sesiapa yang Engkau kehendaki dan Engkaulah yang menghina sesiapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkaulah sahaja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu



Berikut dititipkan tafsiran Buya Hamka (1908-1981) secara ringkas, pada ayat ini seperti yang didapati pada Tafsir Al-Azhar, ulama' nusantara yang bukan sahaja disantuni pada gugusannya sahaja malah kekal dihormati seluruh dunia.
  1. Nabi Muhammad s.a.w. diutus Tuhan menjadi Rasul. Pokoknya ialah mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan, tetapi hasilnya ialah sesuatu kekuasaan, suatu pemerintahan yang mempunyai wibawa dan kemegahan.
  2. Nabi kita s.a.w bukanlah berjuang untuk mencari sesuatu kekuasaan, atau untuk mencapai jabatan tertinggi sebagai kepala negara.Sekali-kali dia tidak mengingat itu. Yang ditujunya adalah kebesaran agama, tegaknya syiar Allah dan keluarnya manusia dari  gelap gulita syirik kepada terang benderang iman. Tetapi, meski beliau tidak menuju kekuasaan, namun kekuasaan pun tercapai.Akhirnya kekuasaan bukanlah tujuan, tetapi menjadi alat buat melancarkan agama. Demikian telah ditakdirkan oleh Allah !
  3. Kalau kita ukur secara sekarang, beliau datang membawa satu idelogi, yaitu Islam. Kemudian dengan sendirinya terbentuk kekuasaan di Madinah. Bukan terlebih dahulu beliau mengejar sesuatu kekuasaan, lalu kemudian disusun ideloginya.
  4.  Tidak ada darah bangsawan di dunia yang berketurunan yang lain dari Adam, atau dari bukan dari asal usul manusia. Timbulnya kekuasaan hanyalah pinjaman sementara dari Allah.
  5. Pangkat dan kemuliaan yang diberikan Allah lain coraknya daripada istilah-istilah yang diperbuat manusia. Izzah ertinya kemuliaan dan dzillah ertinya kehinaan. Izzah juga bisa diertikan gengsi, prestige, atau wibawa. Sinarnya tidak akan dapat ditutup walaupun oleh kemiskinan ! Dzillah bisa juga diertikan jiwa rendah, yang tidak dapat disembunyikan walaupun disalut emas.
  6. Di dalam menafsirkan al-mulku yang beerti kekuasaan itu, Ibnu Abbas telah mengatakan bahawa yang dimaksud dengan al-mulku itu ialah nubuwwah, yaitu kenabian. Penafsiran ini dapatlah kita renungkan. Sebab al-mulku yang timbul dalam an-nubuwwah jauhlah lebih kekal daripada al-mulku yang didapat dalam gejala perebutan politik dan kekuasaan, seorang raja naik, seorang raja jatuh dan seorang merampas kekuasaan.
  7. Kekuasaan Nubuwwat itu adalah atas jiwa. Kekuasaan besar inilah yang diberikan Allah kepada para Rasul dan para Nabi, sehingga walaupun nabi-nabi itu tiada lagi, namun kekuasaan mereka masih hidup terus-menerus.Berapa banyak kerajaan yang berkuasa di dalam dunia ini, mereka tidak merasa kuat berdiri kalau mereka tidak menyatakan menyandarkan kekuasaan itu kepada sejarah nabi-nabi.
  8. Kekuasaan Nubuwwah adalah kekuasaan atas rohani. Sedang kekuasaan duniawi adalah pada lahir. Kekuasaan Nubuwwat menimbulkan rasa takut pada manusia akan berbuat jahat, sebab ada hukum yang akan diterimanya dari Tuhan, sebagaimana yang diajarkan oleh nabi-nabi.
  9. Membaca ayat yang tengah kita tafsirkan ini, kita mendapat dua kesan. Al-Mulku atau kekuasaan, baik secara kerajaan dunia ataupun kerajaan Nubuwwat diberikan oleh Allah kepada barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan dunia bisa diberikan dan bisa dicabut. Tetapi kekuasaan Nubuwwat yang diberikan kepada Abiya' dan Mursalin, tidak pernah dicabut. Bahkan setelah mereka mati, kekuasaan rohani yang mereka tinggalkan tetap berjalan. Dan Tuhan bisa memuliakan seseorang, walaupun dia bukan raja atau kepala negara.

No comments: